Tafsir 17 Karakter Muslim Berkemajuan (2)

59CDB943-F58C-42D4-BAEC-1D7B82A93234

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya terkait tafsir filosofi dari makna 17 karakter Muslim Berkemajuan KH. Ahmad Dahlan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed pada saat kajian Ramdhan PP Muhammadiyah. Adapun tulisan ini adalah tafsir yang kelima sampai ketujuh dengan pendekatan sosio-fenomenologis, yaitu;

Kelima, Kaya tapi bersahaja.

Kekayaan sering menjadikan manusia lupa asal usul, menjadi angkuh, sombong dan autis sosial (tidak peduli) pada orang miskin. Selain itu kekayaan sering menjerumuskan kepada hidup mewah, konsumtif dan hedonis, sehingga sering lupa diri seolah kekayaanya tidak akan habis atau langgeng dan lupa taat kepada Allah SWT sang Maha pemberi rejeki. Allah SWT menurunkan azabnya bagi orang-orang yang lupa akan rezeki yang telah diberikannya, sebagaimana terdapat dalam Q.S Al Isra’ 17:16 sebagai berikut:

وَإذَا أَرَدْنَا أنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيها فَحَقَّ عَلَيْهَا القَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيْراُ

Artinya: Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka malakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).
Karakter di atas bukanlah karakter muslim berkemajuan.

Karakter muslim berkemajuan adalah kaya tapi bersahaja. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) arti bersahaja adalah sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Artinya seorang Muslim berkemajuan menjadikan kekayaan hanya dipahami sebagai titipan ilahi, sehingga tidak perlu dijadikan media kesombongan dalam pergaulan kehidupan. Kekayaannya digunakan sewajarnya secara hemat dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat di jalan dakwah.

Sebagaimana firman Allah:
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya mendapatkan pahala yang besar.” (QS. al-Hadiid:7).

Keenam, Hartawan tapi dermawan.

Baca Juga  MCCC: Jihad Kemanusiaan

Banyak Harta terkadang menjadikan orang semakin bakhil bagi pemiliknya. Bakhil merupakan sebuah kata berasal dari bahasa arab yang dalam bahasa Indonesia berarti kikir atau pelit. Bakhil adalah sifat yang harus dihindari oleh setiap muslim, karena kebakhilan adalah sikap egois yang dilarang oleh Islam, tercela dan berakibat buruk baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam Surat Ali Imran ayat 180, Allah berfirman:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.

Ada beberapa bahaya dari penyakit bernama sifat bakhil. Diantaranya:

1) Bakhil menjadikan seseorang terlalu berlebihan dalam mencintai dunia.
2) Bakhil bisa mengikis rasa kepedulian kita terhadap sesama yang kurang mampu dan membutuhkan.
3) Bakhil yang terus dipelihara akan menumbuhkan sikap suka menumpuk-numpuk harta. Karena itu, dalam salah satu hadisnya Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah doa memohon supaya dijauhkan dari sifat Bakhil. Karakter di atas bukanlah sifat muslim berkemajuan.

Bagi muslim berkemajuan, kepemilikan harta dipahami sebagai:

Pertama, harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada menjadi ada.

Kedua, harta sebagai perhiasan hidup. Hal ini memungkinkan manusia untuk menikmatinya dengan baik dan tidak berlebih-lebihan.

Ketiga, harta sebagai ujian keimanan. Hal ini berkaitan dengan cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam ataukah tidak.

Keempat, harta sebagai bekal ibadah. Harta digunakan untuk melaksanakan perintah-Nya dan muamalah di antara sesama manusia, melalui zakat, infak dan sedekah.

Dari pemahaman di atas, bagi muslim berkemajuan memaknai hartawan haruslah dermawan bukan bakhilan. Dermawan artinya dengan ikhlas memberi, berbagi, menolong atau rela berkorban di jalan Allah baik dengan harta bahkan dengan jiwa dan raganya baik berupa berbentuk uluran tangan untuk bersedekah, infak, zakat, dan sebagainya.

Baca Juga  Memperkokoh Ideologi "Dahlaniyah" di Muhammadiyah

Ketujuh, Kiai tapi tidak Semuci.

Labelisasi status sosial tinggi yang diberikan oleh masyarakat terhadap individu atau kelompok sering menjadi lupa diri bagi penerimanya, bahkan berubah menjadi kesombongan atau sok-sokan lupa asal usul dalam bersikap di masyarakat.

Fenomena di atas sering terjadi dalam relasi status sosial keagamaan. Sering kita jumpai individu yang dilabel masyarakat sebagai orang alim atau istilah Jawa disebut Kiai, lantas lupa daratan terlalu jumawa atas keunggulan dirinya atau ilmu yang dimiliki dan menganggap rendah orang lain. Fenomena ini oleh orang Jawa disebut sok suci atau “semuci”.

Menurut Ari Saptaji, semuci adalah orang yang menganggap diri mereka lebih bermoral, lebih saleh, lebih baik karakternya, dan hal itu dijadikan pembenaran untuk menghakimi pihak lain, digerakkan oleh benci dan dengki. (detikNews, 10/8/2018).

Dalam ranah psikologi sosial, ada kajian yang disebut efek semuci. Kajian ini berangkat dari pengamatan bahwa orang biasanya terlalu optimistis atas keunggulan diri mereka. Bias ini cenderung semakin menguat dalam tataran moral dan kesalehan beragama. Orang menganggap diri mereka lebih bermoral, lebih saleh, lebih baik karakternya, dan hal itu dijadikan pembenaran untuk menghakimi pihak lain.

Model Kiai yang semuci, alih-alih menjadikan rendah hati atas ilmu yang dimiliki, sebagaimana fenomena padi semakin berisi semakin merunduk. Tetapi efek semuci ini lebih sering justru membuahkan dengki dan congkak. Karakter semuci menganggap pihak yang tidak atau belum memenuhi standar kesucian kita sebagai layak untuk diceramahi dan dicaci-maki.

Malangnya, di era media sosial ini, kenyinyiran semuci ini ditengarai kian mencolok. Kita makin gampang terpapar oleh dampaknya, dan boleh jadi ikut terseret arusnya. Karakter di atas bukanlah sifat dari muslim berkemajuan.

Baca Juga  Islam Pembentuk Kehidupan

Adapun karakter muslim berkemajuan, walaupun dalam kehidupan sosial keagamaan mereka dilabeli sebagai Kiai, Ustadz, Syekh, Ulama, Guru dan sebagainya oleh masyarakat, mereka tidak terbuai, lupa asal usul, jumawa, congkak, dengki dan merendahkan orang lain.

Tetapi mereka tetap rendah hati, menghormati orang lain, egaliter, tawadhu, dan terus belajar kepada siapa saja yang dianggap memiliki ilmu lebih karena merasa dirinya masih bodoh dan masih banyak dosa. Sebagaimana fenomena padi semakin berisi semakin merunduk.

Bersambung…….

Sumber: Prof.Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed “Back To Future Aktualisasi Islam berkemajuan dalam organisasi Muhammadiyah” disampaikan di Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah 18 April 2021.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk