Tafsir 17 Karakter Muslim Berkemajuan (1)

59CDB943-F58C-42D4-BAEC-1D7B82A93234

Dalam pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah (18/4/202) ada wacana menarik yang disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed terkait 17 Karakter Berkemajuan KH. Ahmad Dahlan”.

Maka tulisan ini mencoba menafsirkan makna filosofis dari 17 karakter Muslim berkemajuan KH. Ahmad Dahlan secara sosio-fenomenologis.

Pertama, Ningrat tapi merakyat.

Menurut Clifford Geertz membagi masyarakat jawa menjadi 3 bagian, yaitu abangan, santri dan priyayi. Menurutnya orang jawa sendiri membedakan empat tingkat sosial sebagai stratifikasi status; yaitu “dhara” (bangsawan/ningrat), priyayi (birokrat), wong dagang atau saudagar (pedagang) dan wong cilik (orang/rakyat kecil).

Stratifikasi di atas berdampak pada privilese dan perlakuan yang berbeda di masyarakat. Dimana posisi ningrat selalu diposisikan untuk dilayani, mendapatkan fasilitas mewah, relasi sosial terbatas dengan rakyat dan cenderung memandang posisi rakyat/orang kecil dengan sebelah mata (rendah). Karakter di atas tidaklah mencerminkan sikap Muslim merkemajuan.

Muslim berkemajuan mengakui perbedaan identitas sosio-kultur yang ada di masyarakat, perbedaan identitas tidak dijadikan standart perbedaan dalam pergaulan sosio-kultur di masyarakat. Sehingga, walaupun status sosialnya masuk katagori ningrat tetapi sikap sosialnya mau bersanding dan membuka diri dengan kelompok lain terutama dengan rakyat atau orang kecil tanpa melihat status sosialnya.

Mereka memahami bahwa perbedaan identitas dan status sosial tidak penting, karena bagi mereka yang dilihat atau diukur oleh Allah SWT adalah kualitas akhlaq manusia bukan identitas fisik atau sosialnya. Sebagaimana dalam QS. Al Hujurat: 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui”.

Kedua, Puritan tapi inklusif.

Baca Juga  Muhammadiyah Rasa Salafi (MuSafi)

Puritan atau lebih tepatnya Kaum Puritan dari Inggris pada abad ke-16 dan 17 adalah kumpulan sejumlah kelompok keagamaan yang memperjuangkan “kemurnian” doktrin dan tata cara peribadatan, begitu juga kesalehan perseorangan dan jemaat.

Dalam konteks Islam makna puritan (tanzih) adalah memposisikan Islam sebagai kerangka normatif ajaran yang transenden, baku, tak berubah dan kekal. Bangunan hukum dan ajarannya harus merujuk pada teks yang termaktub dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi saw.

Dalam prakteknya ideologi puritan cenderung menampilkan sikap keagamaan yang kaku, susah menerima keberadaan orang lain, justifikasi sepihak dan terkadang intoleran. Sikap tersebut dipengaruhi oleh cara pandang terkait pemahaman keagamaan secara tekstual dan dianggap sudah final, baku dan kekal. Sehingga jika ada pemahaman keagamaan yang lain dan berbeda dianggap sesat atau kafir yang boleh diskriminasi atau dibully.

Dampak pandangan tersebut cenderung menampilkan sikap sosial keagamaan tertutup atau eksklusif. Secara umum eksklusif adalah sikap yang memandang bahwa keyakinan, pandangan pikiran dan diri islam sendirilah yang paling benar, sementara keyakinan, pandangan, pikiran dan prinsip yang dianut agama lain salah, sesat dan harus dijauhi.
Karakter tersebut tidak mencerminkan Muslim berkemajuan.

Karakter Muslim berkemajuan, memaknai puritan secara positif dengan tetap menampilkan sikap sosial keagamaan Islam yang inklusif. Islam Inklusif adalah islam yang bersifat terbuka. Islam Inklusif muncul tanpa mengahapus nilai kebenaran atau nilai-nilai yang terkandung dalam agama lain. Islam inklusif juga menunjukkan bahwa tidak ada penyeragaman dan paksaan terhadap agama lain entah dari segi keyakinan ataupun cara beribadah mereka.

Artinya secara theologi-syariah Muslim berkemajuan, memahami puritan adalah berusaha secara maksimal menerapkan ajaran Islam (beribadah) berdasarkan sumber otentik Al Qur’an-hadis. Sangat ketat menyeleksi (proses tanjih) sumber beribadah harus dari Al Qur’an dan hadis, jika tidak ada sumber tersebut mereka tidak akan melakukan.

Baca Juga  Ajaran Hidup KH. Ahmad Dahlan

Namun secara sosiologis, muslim berkemajuan yang memegang ideologi puritan sangat terbuka (inklusif), mau bekerjasama, mau menerima keberadaan orang lain yang berbeda seca suku, ras, agama dan golongan. Sehingga terbangun sikap yang saling menghargai dan menghormati antar sesama walau berbeda.

Ketiga, Kritis tapi konstruktif.

Karakter muslim berkemajuan adalah kritis tapi konstruktif. Artinya mereka tidak apatis atau cuek, tetapi selalu peduli terhadap persoalan, terutama jika ada ketidakadilan yang menimpa pada masyarakat.

Kepedulian tersebut diwujudkan dengan memberikan masukan atau kritik secara konstruktif terhadap persoalan terutama terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kepentingan publik di masyarakat.

Muslim berkemajuan tidak berhenti hanya kritik atau hanya “nyiyir” atas kebijakan atau persoalan yang ada. Tetapi juga membantu memberikan solusi konstruktif terhadap persoalan yang terjadi.

Misal persoalan kebodohan, Muslim Berkemajuan tidak hanya kritik pemerintah, tetapi ikut memberikan solusi konstruktif dengan ikut mendirikan lembaga pendidikan mulai tingkat dasar (TK/SD) hingga Perguruan Tinggi (PTM) dalam rangka mencerdaskan anak bangsa Indonesia.

Keempat, Priyayi tapi melayani.

Dalam struktur sosial masyarakat Jawa dikenal dengan hirarki sosial, ada kelompok bangsawan, priyayi, abdi dalem dan rakyat jelata. Posisi tersebut berdampak terhadap relasi pergaulan, previless dan akses sosial. Dari struktur sosial di atas, kelompok yang paling diposisikan tinggi adalah priyayi.

Priayi adalah istilah dalam kebudayaan Jawa untuk kelas sosial dalam golongan bangsawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, priayi adalah orang yang termasuk lapisan masyarakat yang kedudukannya dianggap terhormat, misalnya golongan pegawai negeri.

Dampak dari status dan posisi tersebut, menjadikan kebiasaan di masyarakat posisi priyayi selalu diposisikan atas untuk dilayani dan dihormati oleh abdi dalem atau rakyat jelata. Karakter tersebut bukan sikap Muslim Berkemajuan.

Baca Juga  Gus Dur Dimata Masyarakat Tionghoa Indonesia

Karakter Muslim berkemajuan tidak mengenal pembedaan berdasarkan kasta sosial tersebut. Muslim berkemajuan berpandangan pada hakekatnya semua manusia sama, yaitu sama makhluk cipta Allah dan berstatus hamba. Sehingga walaupun pada struktur sosial mereka dimasukan pada struktur priyayi (PNS) tetapi mereka selalu melayani bukan minta dilayani.

Karakter ini yang menjadikan dakwah Muhammadiyah dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, yaitu melayani. Walaupun secara umum anggota Muhammadiyah banyak dari kalangan priyayi (PNS), mereka PNS tapi berjiwa mubaligh yang siap melayani kebutuhan dakwah Islam, sehingga mereka egaliter dan terbuka.

Bersambung…..

Sumber: Prof.Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed “Back To Future Aktualisasi Islam berkemajuan dalam organisasi Muhammadiyah” disampaikan di Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah 18 April 2021.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk