Ragam Ideologi Keagamaan Warga Muhammadiyah

240bb56b-3b52-42c2-909f-dc1c6bdc9c0e

Ideologi sosial-keberagamaan warga Muhammadiyah tidak tunggal. Secara organisasi Ideologi Muhammadiyah ditetapkan secara sama dan tunggal sebagaimana dalam buku-buku rumusan ideologi Muhammadiyah. Namun dalam proses pemahaman terhadap rumusan ideologi terdapat beragam varian pemahaman dikalangan warga Muhammadiyah. Konsekuensi dari beragam varian pemahaman ideologi berdampak pula pada ragam varian sikap keberagamaan warga Muhammadiyah di masyarakat.

Hal ini dapat teramati dari hasil penelitian Munir Mulkhan (2013:221) di Wuluhan Jembar yang membagi empat varian orang Muhammadiyah dari prespektif sosiologi-keagamaannya. Pertama, Muhammadiyah-Ikhlas, kedua; Muhammadiyah-Kiai Ahmad Dahlan, ketiga; Muhammadiyah-NU (MuNu), keempat; Muhammadiyah-Marhean (MarMud).

Realitas Sosial yang beragam

Dalam deskripsi diatas dapat dipahami bahwa realitas sosial keberagamaan Muhammadiyah itu bervariatif, tergantung dari bagaimana anggota tersebut mengkonstruk ideologi Muhammadiyah dan dipraktekan dalam keseharianya.

Gerakan arus perubahan sosial yang demikian cepat ini, peran dan akses dakwah Muhammadiyah sudah tidak mengenal basis teritorial kota dan desa secara eksklusif. Nyatanya, di kota ada Muhammadiyah, di desa pun ada Muhammadiyah, bahkan di masa lalu, ketika teknologi belum digunakan seluas sekarang dan tanpa batas.

Kondisi tersebut membuat lahirnya varian ideologi keberagamaan di Muhammadiyah juga ditemukan dari hasil penelitian Biyanto (2009:251) yang menemukan varian pemikiran dan sikap Kaum Muda Muhammadiyah terhadap wacana Pluralisme agama.

Varian Ideologi Muhammadiyah

Ada dua varian yang ditemukan Pertama, Kaum muda Muhammadiyah yang menerima/setuju wacana Pluralisme agama,  argumentasi yang digunakan adalah memahami pluralisme agama harus dibedakan dengn pluralitas dan diversitas agama, sebab pluralisme keagaamaan lebih sekedar pengakuan secara pasif terhadap keragamaan keyakinan dan agama lain.

Kedua, Kaum muda Muhammadiyah yang menolak tegas wacana Pluralisme agama, argumentasi yang digunakan pluralisme agama adalah paham yang mengajarkan semua agama benar dan ini bertentangan dengan keyakinan bahwa agama yang paling benar di sisi Allah hanyalah Islam, bukan yang lain.

Baca Juga  BerMuhammadiyah Asli: Tanpa Rasa HTI-FPI-Salafi

Potret di atas menggambarkan bahwa struktur sosio-kultur warga Muhammadiyah tidak tunggal. Kondisi ini secara alamiah di internal Muhammadiyah akan mempengaruhi polarisasi pemahaman dan sikap keberagamaan, tergantung dari latar sosio-kultur mereka.

Muhammadiyah bersama Varian Ideologi

Walaupun secara konsep dan rumusan ide dan strategi perjuangan (ideologi Muhammadiyah)  di sepakati bersama dan tunggal melalui keputusan organisasi. Maka tidak heran kalau di kalangan anggota secara formal satu organisasi Muhammadiyah, tetapi dalam memahami dan sikap keberagamaannya bervariatif. Ada yang ber-Muhammadiyah dengan paham ideologi Islam Moderat, Islam Puritan, Islam Liberal bahkan Islam Radikal “garis keras”.

Wacana di atas dipahami dan dikonstruksi oleh warga Muhammadiyah dengan dipengaruhi oleh konstruksi ideologinya,  yang kemudian berdampak pula terhadap sikap keberagamaannya.

Pertemuan Varian Ideologi Muhammadiyah

Pada kajian ini dapat dipotret varian ideologi keberagaman Muhammadiyah dari prespektif pemahaman ideologinya. Pertama; varian ideologi keberagamaan Moderat. Varian ini memahami ideologi Muhammadiyah secara terbuka (inklusif).

Dalam arus ini keberadaan Muhammadiyah di masyarakat tidaklah sendiri tetapi berhimpit dengan gerakan sosial keagamaan yang lain (NU-PERSIS-AL-Irsyad-Syiah, dll), sehingga harus saling menghormati dan toleransi. Kelompok ini juga terbuka dengan perubahan baru namun tetap memperhatikan tradisi puritan.

Gairah Kelompok ini mendasarkan pemahamannya pada kaidah ushul al-fiqih “al-Mukhafadhatu ‘ala al-qadhimi al-ashlah wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” (Menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik). Varian ini dapat menerima wacana Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, Toleransi namun tidak harus diikuti semua,  bila di wacana tersebut ada yang baik maka dapat diadopsi dengan tradisi Muhammadiyah.

Kedua adalah varian Ideologi Keberagamaan Puritan. Varian ini memahami ideologi Muhammadiyah secara tertutup serta tidak membuka diri terhadap ideologi gerakan keagamaan lainnya.

Baca Juga  Muhammadiyah di Tengah Salafisasi Global

Tahap Varian ketiga menganut ideologi keberagamaan Liberal. Varian ini memahami bahwa ideologi Muhammadiyah harus didekonstruksi ulang, karena dianggap kurang relevan untuk dapat menjawab problematikan kehidupan kontemporer.

Keempat; varian ideologi keberagamaan Radikal “garis keras”. Kemunculan varian ini dilandasi pada diskursus posisi Muhammadiyah dengan penegakkan Syariat Islam (semisal Khilafah Islamiyah) di Indonesia. Dan diskursus aktualisasi ideologi dakwah amar ma’aruf nahi mungkar  Muhammadiyah di masyarakat.

 

Muhamadiyah pada wacana penegakkan Syariat Islam Indonesia, memang tidak tegas dalam memperjuangkan namun selalu mengupayakan. Tapi sampai saat ini masih terbilang “abu-abu” tidak seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam lainya seperti Hizbut at-Tahrir (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), KISDI, Komite Penerapan Syariat Islam (KPSI) dan sebagainya.

Selanjutnya, pada wacana aktualisasi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di masyarakat, banyak varian beranggapan ideologi dakwah Muhammadiyah hanya berkutat pada dakwah “amar ma’ruf” amal baik, namun tidak tegas dan jelas pada aktulaisasi dakwah “nahi mungkar” terkesan gagap dan membiarkan, tidak seperti yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) yang lebih tegas dan keras dalam dakwah “nahi mungkar”.

Konstruksi pemahaman ideologi tersebut menjadikan mereka mengambil langkah dengan mengadopsi ideologi kelompok tersebut (Islam Radikal) bahkan terlibat juga didalamnya. Sehingga pola ini kemudian mempengaruhi sikap keberagamaan mereka di Muhammadiyah cenderung radikal dan keras mirip dengan gaya kelompok Islam radikal yang dianggap lebih Islami dari pada ideologi Muhammadiyah.

Jadi, sepertinya kita memang harus mengakui bahwa tidak semua kalangan masyarakat mengenal Muhammadiyah, terlebih seragam mengenai ideologi serta gerakan dan respon terhadap persoalan keumatan.

Penulis: Anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Timur/Dosen UM Surabaya/Peneliti Kajian Gerakan Keagamaan Kontemporer di Institut Studi Islam Indonesia (InSID)

Baca Juga  Muhammadiyah Rasa Salafi (MuSafi)

 

 

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk