Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

pandemi_unsplash

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah populer dan dilupakan. Memang pembahasan covid-19 ini lagi hangat-hangatnya dan dibicarakan di semua elemen masyarakat. Hampir semua Snap, Instagram, dan semua berita yang dimuat di layar gawai maupun kertas semua menyelipkan kata covid-19, covid-19, covid-19. Eh, udah kayak promosi kopi cap 19.

Segala macam pernak-pernik pemberitaan covid-19 membuat kita terlena dan terenyuh. Karena covid-19 ini menyebar luas secara cepat dan ganas. Ada yang bermodel edukasi pencegahan, penanganan, dan info terkini mengenai perkembangan covid-19.

Dampak dari covid19 ini memang sangat membahagiakan lini media massa. Dimana mereka menyebut dirinya sebagai pahlawan kota. Eh ini bukan Batman ya. Meskipun demikian,  media massa sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat terkait pandemi covid-19 ini.

Edukasi dan himbauan media massa bertujuan agar warga selalu waspada dan terhindar dari wabah covid-19. Salah satu contoh nya adalah dengan membuat tagar #diRumahAja yang sekarang dimuat hampir di seluruh media massa.

Meskipun tagar #diRumahAja digaungkan, tetapi masih ada beberapa orang yang menjalankan rutinitas diluar rumah untuk bekerja, berobat dan yang lainnya dengan penuh resiko yaitu dihantui dengan pandemi covid19 ini.

Pandemi Melahirkan Isu di Masyarakat

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman yang ditemukan di lapangan ketika bertemu dengan masyarakat. Mereka sangat antusias dengan obrolan covid19. Berdasarkan obrolan  dengan beberapa orang  yang kebetulan bertemu minggu lalu.

Poin pertama adalah ternyata masyarakat terlalu memakan berita dan isu hoaks yang kadang dibuat oleh oknum-oknum masyarakat yang masih awam terkait covid19 ini. Disalurkan dari mulut ke mulut, dari warung satu ke warung dua. Alurnya begitu seterusnya dan selalu ditambahkan dengan pandangan setiap individual masyarakat terkait covid19.

Baca Juga  Jangan Salah, Berbicara Juga Butuh Keterampilan Khusus

Poin kedua adalah implikasi semangat ikut mengedukasi masyarakat lain malah menimbulkan nostalgia lama. Yaitu penyakit lama yang kambuh lagi. Ini yang membuat saya sedih menyaksikan bahwa dalam suasana wabah, banyak yang belum bisa melepaskan diri dari mindset  Pemilihan Presiden (pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada). Seolah segala sesuatu–termasuk wabah–adalah tempat kita bisa melampiaskan cacian dan pujian setinggi langit kepada presiden atau kepala daerah.

Kasus ini polanya sama dengan masa pilpres yang sudah lalu. Dengan semangat keberagaman Masyarakat Indonesia. Ini dirasa menciderai karakter masyarakat Indonesia yang hanya disebabkan oleh segelintir orang pada suasana covid-19.

Gaungkan Membaca dengan Teliti dan ngga Sembrono

Maka dari itu, mari bersama-sama kita menghindari sumber-sumber yang tidak akurat, meski itu dari sanak keluarga sendiri dan mengkonfirmasinya pada sumber-sumber yang terpercaya dan valid. Agar perilaku sembrono dan ngawur terkait kasus covid-19 yang akhirnya merugikan banyak orang lain.

Selanjutnya, saya ingin mengutip  tulisan dari Dr. Sholichul Huda, dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, yang selalu disampaikan pada setiap perkuliahan kelas maupun umum. Beliau menyatakan, ”Tidak ada revolusi sosial tanpa adanya Transformasi intelektual”. Melalui kalimat ini, ia ingin mengajak semua untuk selalu membaca, dan mencari informasi yang benar dan akurat. Yang akan membuat kita berpikir lalu berbuat, terutama ketika terjun dalam masyarakat.

Terimakasih.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk

Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah

Oleh: KH. Nurbani Yusuf* Benarkah Muhammadiyah talak tiga terhadap tasawuf ? Seperti mencari jarum hitam ditengah malam gelap gulita, misal yang tepat menggambarkan betapa susahnya