Model Pembelajaran Islam

Pelajr Muslim

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lakhdi. Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.” “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.”

Dari hadist diatas maka, patutlah kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam belajar atau menuntut ilmu. Adapun dalam membingkai pendidikan diera yang serba maju ini harus mempunyai model pendidikan yang baik dan benar. Sehingga, nantinya dari model tersebut bisa menghasilkan generasi yang berkarakter, unggul, dan berprestasi disamping itu juga mempunyai akhlaq yang baik.

Pertanyaannya adalah model pendidikan seperti apa yang mempu membentuk perilaku berkarakter Islami?. Dari pertanyaan ini memang betapa pentingnga model pendidikan yanag mampu membentuk karakter Islami harus menjadi prioritas dalam segenap proses pendidikan.

Didalam surat Al- Jum’ah ayat 2 yang artinya ” Dialah yang mengirim seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan mereka ayat-ayatnya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan pada mereka kitab dan Hikmah (sunnah), walaupun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yàng nyata”.

Maka dari ayat tersebut diatas bisa dikatakan bahwa model pendidikan ada tiga yaitu Tilawah, kedua Tazkiyah, dan ketiga Al-Hikmah. Yang mana dari ketiga model ini kemudian digunakan oleh Rasulullah untuk melakukan pemahaman terhadap umatnya dan sekaligus membentuk karakter Islam yang paripurnah.

Penjelasan diatas berkorelasi dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Sholihin Fanani dalam kegiatan Halal bi halal atau silaturahmi syawalan yang adakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Karang Pilang (21/04/21) beliau mengatakan bahwa model pendidikan yang harus dilakukan oleh seluruh pendidik harus bermuara pada Rasulullah.

Baca Juga  Guru yang Digugu dan Ditiru

Pertanyaan adalah pendidikan yang buara pada Rasulullah itu seperti apa?. Dalam forum tersebut Dr. Sholihin Fanani membagi tiga bagian yang termaktub dalam surat al jum’ah ayat 2, seperti yang dijelaskan penulis diatas. Untuk itu penulis mencoba untuk menjabarkan dari ketiga model tersebut.

Tiga Model Pembelajaran

1. Tilawah (membaca)
Membaca termasuk struktur penting dalam melakukan pemahaman atas ilmu pengetahuan. Dengan membaca kita akan mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan seluruh dinamika yang ada dialam semesta. Membaca juga bagian dari perintah agama dan itu terdapat dalam Al-Quran surat Al-Alaq ayat 1.

Untuk itu seharusnya ayat tersebut bisa dijadikan acuan untuk mengembangkan pola pikir dan semangat dalam membaca. Dalam hal ini membaca bukan hanya secara teks tapi juga secara konteks dengan melihat semua yang ada disekitar kita.

Dari penjelasan diatas maka ada benarnya dengan ungkapan “membaca adalah jendela dunia”. Dari ungkapan tersebut terdapat pemahaman bahwa dalam memahami ilmu pengetahuan ada banyak aspeknya termasuk membaca dan menulis. Maka, literasi membaca dan menulis harus dijadikan sebagai budaya yang masif dan terstruktur dami kemajuan suatu bangsa.

2. Tazkiyah (suci jiwanya)
Imam Syafi’i mengatakan bahwa jika semakin bertambahnya ilmu, dan tidak menambah rasa takutmu kepada Allah Swt. berarti ilmu yang sedang kau pelajari itu salah.

Secara sederhananya tingginya pendidikan yang diperoleh seharusnya dibarengi dengan kuatnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Sedangkan, iman yang kuat itu bisa dijadikan tolak ukur kesucian jiwa seseorang. Dengan iman yang kuat juga bisa menjadikan ilmu atau pendidikan yang didapat bisa memberikan kemanfaatan bagi masyarakat secara luas. Bukan sebaliknya dengan mala dijadikan alat untuk merusak tatanan kehidupan dimuka bumi.

Baca Juga  Islam Jawa: Pandangan Kaum Tengahan

Secara tidak langsung Tazkiyah inilah menurut penulis bagian urgensi dari model pendidikan menurut Al Quran surat Al Jumah ayat 2 yang mana didalam kesucian jiwa tersebut akan menghasilkan karakter Islami atau pribadi yang memiliki keimanan yang tinggi kepada Allah Swt. disamping juga didalamnya terdapat aqidah yang luhur sesuai dengan pribadi nabi Muhammad Saw.

3. Ta’lim/al hikmah (bisa mengambil pelajaran)
Secara bahasa, Hikmah artinya kebijaksanaan (dari Allah Swt.); sakti; kesaktian; arti atau makna yang dalam; makna yang terkandung di balik suatu peristiwa; dan manfaat.  (KBBI). Kemudian dalam bahasa Inggris, hikmah atau hikmat disebut wisdom (kebijaksanaan), yaitu suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian, dan perbuatan sesuai pengertian tersebut.

Menurut Ibnu Manzhur, penyusun kamus terkenal: “Lisan al-‘Arab”, mendefinisikan Hikmah sebagai “Ma’rifah Afdhal al-Asy-ya bi Afdhal al-‘Ulum” (mengenali hal-hal paling utama dengan pengetahuan paling utama). Orang kemudian mengidentikkan Hikmah sebagai filsafat atau pengetahuan filosofis.

Didalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 151 yang artinya sebagaimana kami mengutus kepadamu seorang rasul (Muhammad) dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat kami, menyucikan kamu, dan memberikan dan mengajarkan kepada kamu (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

Dari semua definisi diatas tentang Hikmah maka , segala dibalik proses kehidupan pasti ada pelajaran yang bisa diambil atau ibro. Dan juga ketika ingin mengetahui suatu ilmu pengetahuan pasti tidak hanya melihat dari satu sudut saja melainkan banyak sudut. Misalkan secara sederhana melakukan pendalaman tentang gunung metika, kita melihat dengan secara Hikmah maka, gunung tersebut hanya terdiri dari batu yang besar.

Baca Juga  Jangan Sepelekan Guru

Tapi disitu banyak rangkaianya, disamping batu yang besar dan menjulang juga ada api, pohon dan berbagai macam kehidupan didalam. Pohon didalam struktur gunung bisa dijadikan serapan air yang nantinya bisa dimanfaatkan secara arif oleh manusia.

Untuk itu bisa dikatakan bahwa hikmah itu bukanlah hanya dari ilmu yang kita pelajari dari buku-buku dan bukan pula peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dari semua ilmu yang kita dapat bearti Hikmah termasuk suatu renungan atas kesungguhan memanfaatkan dari ilmu dan kesungguhan memanfaatkan ilmu-ilmu dan peristiwa-peristiwa yang kita dalam kehidupan sehari-hari.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk

Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah

Oleh: KH. Nurbani Yusuf* Benarkah Muhammadiyah talak tiga terhadap tasawuf ? Seperti mencari jarum hitam ditengah malam gelap gulita, misal yang tepat menggambarkan betapa susahnya