Merawat Taqwa Pasca Puasa

Onta

Pasca Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan sudah terlewati. Saatnya menjalani bulan-bulan yang membolehkan siapa saja melakukan hal-hal yang membatalkan puasa di siang hari. Kecuali tentu bagi siapa yang memilih melaksanakan ibadah puasa sunnah pada waktu yang disyari’atkan.

Selama satu bulan manusia mukmin dilatih untuk menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami isteri di siang hari. Bahkan Nabi Muhammad SAW meminta umatnya agar mampu menahan amarahnya, sehingga apabila ada saudaranya yang ingin mengajak beradu urat saraf, maka katakan saja “aku sedang berpuasa”. Puasa adalah tameng seorang mukmin agar tetap berada dalam garis kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Bulan Ramdhan Bulan Tarbiyah

Bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan. Wahbah Az-Zuhaili, dalam bukunya Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta (2013), menyatakan bahwa ibarat sekolah, puasa adalah sekolah budi pekerti. Puasa mengajarkan bagaimana seorang mukmin dapat menahan diri, disiplin, menghargai waktu, menahan ucapan, mengendalikan tindakan, menjaga diri agar tidak menyantap makan atau minum, atau menahan diri dari hal-hal mencemari dan mengurangi pahala ibadah puasa.

Selama puasa seorang mukmin dituntut agar menjaga lisannya. Tidak boleh meng-gibah, menceritakan sesuatu yang tidak berkenan dari orang yang sedang tidak ada di tempat. Tidak mengadu domba dan berkata kotor. Selain itu, menahan diri untuk tidak melihat dan mendegar sesuatu yang Allah tidak berkenan atasnya. Karena semua itu bertentangan dengan adab puasa. Bertentangan dengan ajaran Islam.

Nabi SAW dalam sebuah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah tegas menyatakan, “Siapa yang tidak membuang dusta dan tidak meninggalkan kelakukan beralaskan dusta maka bagi Allah, tidak berguna ia meninggalkan makan dan minum”. Hadis ini membawa pesan, bahwa ibadah puasa tidak sebatas menahan diri pada aspek materiil, berupa meninggalkan makan, minum dan hubungan suami isteri di siang hari.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Fatihah Ayat 1: Al-Qur’an Adalah Rahmat

Makna Puasa

Ibadah puasa juga menahan diri dari aspek non materiil. Tidak berdusta, berkata kotor, menebar fitnah dan permusuhan, dan pekerti buruk lainnya. Secara syari’at berdusta tidak membatalkan puasa, tetapi secara hakekat, berdusta menjadikan puasa tidak bermakna, tidak berdampak secara rohani, hanya sebatas menikmati rasa lapar dan dahaga.

Wahbah Az-Zuhaili juga sekolah puasa mengajarkan seorang muslim untuk berlatih menghindari hal yang makruh. Dia menyatakan bahwa anjuran tidak berkumur atau menghirup melalui hidung pada saat berpuasa adalah makruh yang harus ditinggalkan oleh orang yang berpuasa. Hal ini semata-mata demi kehati-hatian jangan sampai air itu mencapai tenggorokan atau masuk ke perut. Padahal ketika di luar bulan Ramadhan, hukum berkumur dan menghirup air ke hidung ketika wudlu adalah sunnah.

Terkait hal ini, Rasulullah SAW pernah mengingatkan sahabat Laqith bin Shabirah ketika dia bertanya tentang wudlu kepada beliau. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasul SAW bersabda, “Sempurnakanlah wudlu, cucilah dengan jeli di sela-sela jari, dan hiruplah air (lewat hidung), kecuali bila engkau berpuasa”.

Selain meminta setiap mukmin untuk menjaga diri. Sekolah puasa mendorong setiap mukmin untuk berlomba untuk melakukan kebajikan. Mulai dari perintah melaksanakan sholat qiyamul lail atau tarawih, tadarus al-Qur’an, memperbanyak berdzikir, memohon ampun, dan juga mengajak untuk memperbanyak berderma.

Dalam sebuah riyawat Muslim disebutkan, “Setiap amal perbuatan anak Adam berupa kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat”. Allah SWT berfirman, “Kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku (akan) langsung membalasnya. Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, juga makanannya semata-mata karena Aku. Orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, waktu berbuka dan waktu menemui Tuhannya. Niscaya bau busuk mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi ketimbang minyak kasturi”.

Bahkan di sepuluh hari terakhir, Rasulullah SAW memberikan teladan dengan semakin meningkatkan intensitas ibadah dan memfokuskan diri pada kebaikan. Karena di sepuluh hari terakhir itu Allah menghadiahkan malam lailatul qodar bagi hamba-Nya yang terpilih.      

Sekolah Ramadahan

Baca Juga  Wahabi-Salafi Tertuduh Khawarij?

Sekolah bulan puasa telah memberikan pendidikan setiap mukmin agar mampu melakukan pengendalian diri. Pengendalian diri tidak hanya pada hal yang terlarang, tetapi juga pada yang tidak disukai oleh Allah.  Sejalan dengan itu, setiap mukmin diperintahkan untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan memperbanyak amal kebaikan, memperbanyak ibadah, mudarasah al-Qur’an, dan berderma melalui zakat, infak, atau shodaqoh.

Semua program pendidikan itu bertujuan untuk menjadikan orang yang berpuasa menjadi orang yang bertakwa, sebagaimana difirmankan Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183. Sebuah predikat yang akan mengantarkan pada kemuliaan hamba di sisi Tuhan di akherat kelak.

Predikat orang yang bertakwa tidaklah sama dengan predikat kesarjanaan. Takwa adalah aktifitas yang harus dipelihara setiap saat, sepanjang hayat. Bahkan harus selalu diperbaharui, ditingkatkan hingga mencapai derajat sebenar-benarnya (Q.S. Ali Imran 102).

Sekolah Ramadhan hanyalah salah satu cara Tuhan untuk mendidik hamba-Nya. Memfasilitasi setiap hamba yang beriman untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri. Semua berpulang kepada diri hamba itu sendiri. Apakah dia akan memanfaatkan karunia Tuhan itu sebaik-baiknya atau tidak?.

Setelah menyelesaikan program Ramadhan, apakah dia akan merawat dan mempertahankan diri dalam kebaikan dan aktifitas ibadah atau tidak? Ibarat anak sekolah yang baru lulus, dia mau dan mampu mengimplementasikan ilmu yang didapat atau tidak, tentu itu berpulang pada anak tersebut.

Pengetahuan, latihan dan pembiasaan perilaku takwa selama di sekolah puasa adalah modal baik untuk menjaga diri dalam perilaku orang bertakwa. Sejalan apa yang telah diupayakan di sekolah puasa maka menarik apa yang dinyatakan M. Quraish Shihab (2002) terkait makna takwa. Dalam Tafsir al-Mishbah Volume 1 beliau menyatakan bahwa takwa artinya menghindar. Orang bertakwa adalah yang menghindar. Makna menghindar di sini mencakup tiga tingkat penghindaran.

Baca Juga  Dimensi Ibadah

Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, ini yang tertinggi, adalah menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari Allah SWT.

Takwa, lanjut M. Quraish Shihab (2002), bukanlah satu tingkat dari ketaatan kepada Allah, tetapi ia adalah penamaan bagi setiap orang yang beriman dan mengamalkan amal saleh. Seorang yang mencapai ketaatan adalah orang yang bertakwa, tetapi yang belum mencapai puncaknya pun, bahkan yang belum luput sama sekali dari dosa, juga dapat dinamai orang bertakwa, walaupun tingkat ketakwaannya belum mencapai puncak. Takwa adalah nama yang mencakup semua amal-amal kebajikan.

Siapa yang mengerjakan sebagian darinya, maka ia telah menyandang ketakwaan. Orang yang berpuasa dengan demikian semuanya bisa menyandang ketakwaan. Tetapi tentu tingkatan setiap orang berbeda, tergantung amal kebajikan masing-masing.

Dan setelah puasa amal kebajikan itu tidak boleh dihentikan agar tetap dalam ketakwaan. Bahkan amal kebajikan yang sudah dilakukan terus saja dirawat dan ditingkatkan sehingga dapat menghantarkan pelakunya pada puncak ketaatan sebagai ciri orang yang bertakwa. Wallahu A’lam.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk