Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Police car from the turkish police Trafik Polisi stands on a street

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli tim tata bahasa yang tugasnya adalah mengecek kesalahan-kesalahan gramatikal atau kosakata dalam artikel buku yang hendak diterbitkan.

Nah, tenyata keberadaan ‘polisi bahasa’ penting bagi penerbit. Itu membuat buku-buku yang ia terbitkan enak dibaca dan minim akan kesalahan ketik atau gramatikal.

Gus Muhammad Ma’mun tokoh ulama muda NU menuturkan kita yang biasa aktif di dunia Maya akhir-akhir ini, kita mulai berkenalan dengan jenis polisi akidah. Entah apa istilah yang tepat pada umumnya diisi oleh individu atau ormas keagamaan tertentu yang merasa punya kewajiban untuk meneliti implikasi-implikasi teologis dari obrolan pidato, atau ceramah yang disampaikan oleh para figur publik: politisi, selebriti, ulama, hingga da’i.

Kalau seorang politikus ngomong begini, implikasinya adalah penistaan. Kalau ustadz A bilang begitu, implikasinya adalah penghinaan.  Kalau ulama ini berpendapat begitu, implikasinya sesat. Dalam  konteks menyampaikan nasihat secara individual, hal semacam ini mungkin sah-sah saja dilakukan oleh yang dinamai polisi akidah.

Polisi Aqidah dan Kemajemukan Indonesia

Tapi dalam suasana kontestasi pemikiran dan perebutan wacana dalam aliran pemikiran-pemikiran yang sangat majemuk di Indonesia, memposisikan diri sebagai polisi akidah amat beresiko rasanya.

Padahal perbedaan itu dibicarakan dalam suatu hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Dalam pandangan Islam, orang tua mesti menumbuhkembangkan anak mereka agar tetap memegang teguh Tauhid. Lebih dari itu, mereka juga semestinya terus berupaya menjadikan anak-anaknya Muslim yang baik, yang dapat menjadi kebanggaan Rasulullah SAW, di dunia dan akhirat kelak.

Baca Juga  25 Rasul Sepertinya Kurang

Kembali Mengingat Arti Aqidah

Kalau kita lihat judul kenapa sih, kok bisa di menggugat polisi aqidah. Perlu diketahui bersama regg aqidah itu kepercayaan. Yakni, ajaran tentang aqidah Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan sunah Rasul. Dalam bidang ini, akal tidak diberi kesempatan untuk merubah hal-hal yang telah ada dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul guna menghindari penyelewengan.

Dalam proses perbengkelan aqidah atau kita kenal pelurusan aqidah dan berbagai macam istilah lainnya. Tentunya akan ada fase membaca, ada proses penyadaran. Yakni proses transformasi dan reorientasi pada satu titik kekhalifahan (fitrah) tanpa sedikitpun unsur keterpaksaan atau dipaksakan.

Dalam realita yang ada dan bukan sinetron adanya. Tampillah polisi aqidah sang pahlawan hero katanya. Lebih-lebih bila polisi ini diisi oleh para netizen yang memihak. Ketika ustadz dari ormas A salah bicara, netizen dari kubu sini ramai-ramai menghujat. Lalu ketika ulama dari ormas lain salah bicara, juga sama kubu sana langsung mencaci.

Apalagi bila pidato atau ceramah tokoh agama tersebut dipotong, diedit dan dilepaskan dari konteksnya demi kepentingan sektarian. Sangat berbahaya. Dan korbannya sudah banyak. Masa kita tidak mau belajar dari pengalaman?

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk

Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah

Oleh: KH. Nurbani Yusuf* Benarkah Muhammadiyah talak tiga terhadap tasawuf ? Seperti mencari jarum hitam ditengah malam gelap gulita, misal yang tepat menggambarkan betapa susahnya