Melacak Konversi Ideologi Aktivis Muhammadiyah Ke FPI

gus sholikh

Profil Gerakan Front Pembela Islam (FPI)

Gerakan Front Pembela Islam (FPI) semenjak kelahirannya (th.1998) hingga sekarang selalu “trending topic” dan terkesan kontroversi ditengah masyarakat. Hal itu disebabkan sikap politik dan aktivitas sosial-keagamaannya berbeda dengan Ormas keagamaan moderat (Muhammadiyah-NU).

Sikap politik FPI cenderung beroposisi dengan pemerintahan, serta berani aksi-aksi “nahi mungkar” dengan model sweeping. Model dakwah ini cenderung tidak digunakan oleh organisasi keagamaan moderat, sehingga kesan dilapangan FPI masuk katagori gerakan salafi radikal di Indonesia.

Efek dari model gerakan di atas, menjadikan FPI sering menyerang kebijakkan pemerintah dan puncaknya adalah serangan terhadap HRS, sehingga Ia kemudian hijrah dan menetap di Arab Saudi sekitar 3,5 th. Situasi tersebut menjadikan gerakan FPI sempat mengalami “tiarap” beberapa saat, namun tidak berselang HRS pulang ke Indonesia tanggal 10/11/2020.

Kepulangan HRS tersebut disambut luar biasa dan dieluh-eluhkan oleh pendukungnya, bahkan ada kesan pengkultusan terhadapnya, yang oleh Buya Syafi’i Ma’arif disebut sebagai “perbudakan spiritual”. Kepulangan HRS memberikan energi besar bagi para pendukung FPI, walaupun hingga saat ini masih menyisahkan berbagai kontroversi yang berimplikasi luas terhadap berbagai kalangan, bisa disebut “Habib Rizieq Efek”.

Fenomena menarik ditengah kontroversi dan meningkatnya gerakan FPI, namun dukungan sangat banyak dan dijumpai sebagian aktivis Islam moderat (Muhammadiyah) yang secara ideologi dan manhaj dakwah berbeda. Perjumpaan itu memunculkan pola baru tradisi sosial keagamaan di Muhammadiyah, penulis sebut Muhammadiyah-FPI (MUFI).

Potret di atas dapat dipahami dari hasil riset penulis saat memotret fenomena konversi ideologi aktivis Muhammadiyah ke FPI di Paciran Lamongan. FPI dapat mengambil hati banyak orang Islam Indonesia, termasuk aktivis Muhammadiyah disebabkan FPI dianggap lebih berani dan tegas mengaktualisasikan ideologi “amar makruf nahi mungkar” di lapangan, ditengah gerakan Islam moderat dianggap “lembek” dan terlalu sibuk internal.

Baca Juga  BerMuhammadiyah Asli: Tanpa Rasa HTI-FPI-Salafi

Fakta di atas menarik untuk dipahami, mengapa Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-keagamaan mapan  secara ideologi maupun jaringan dakwah, bahkan penyanggah kehidupan sosial-keagamaan moderat di Indonesia, tetapi sebagian aktivisnya mudah terpengaruh menjadi pendukung bahkan berlahan meninggalkan migrasi ke gerakan lain (FPI).

Fenomena ini tentu sedikit banyak berpengaruh terhadap dinamika kehidupan keberagamaan di Indonesia, dikenal dengan keberagamaan moderat.

Berdasarkan hasil riset, penulis temukan faktor pergeseran (Konversi) ideologi yang tidak dapat dipastikan kapan persis terjadinya, tetapi melalui transformasi lama dan lewat saluran media beragam. Proses tersebut dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan. Dapat dipetakan dua aspek:

Pertama, aspek sosiologis

dipengaruhi kondisi eksternal melihat keadaan masyarakatnya, diantaranya: 1) masifnya praktek kemaksiatan dan cenderung permisif ”cuek” terhadap aksi kemaksiatan. 2) pengaruh industrialisasi, yang berdampak pada pergeseran tradisi masyarakat, dari solidaritas sosial-keagamaan bergeser ke individualis-materialistik.

3) bertemunya karakter masyarakat Pantura keras dengan karakter gerakan FPI keras. Perjumpaan ini memudahkan proses transformasi ideologi FPI masuk ke masyarakat Pantura (Muhammadiyah). Imege keras yang terbangun di masyarakat menemukan saluran lebih agamis lewat FPI, maksudnya aksi-aksi kekerasan yang dilakukan ada legitimasi agama lewat menjadi aktifis FPI.

Kedua, aspek ideologis

dipengaruhi dari kritik internal Muhammadiyah, yaitu: 1) Muhammadiyah dianggap kurang respon terhadap masifnya kemungkaran sosial di masyarakat. 2) Ideologi ”nahi mungkar” dianggap tidak mempunyai formulasi jelas, padahal dahulu konsep ”nahi mungkar” jelas dan tegas dengan melawan Takhayul, Bid’ah, Churafat (TBC).

Muhammadiyah dianggap kuat di ideologi amar ma’ruf dengan wujud Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), lemah diaplikasi nahi mungkar. Anggapan ini menjadikan sebagian aktivis Muhammadiyah lebih bersimpati dan bergabung dengan FPI.

Proses tersebut pada akhirnya menimbulkan gesekan disebabkan perbedaan karakter ideologi, FPI berwatak konservatif bertemu dengan Muhammadiyah berwatak moderat. Situasi ini menyebabkan polarisasi sikap aktivis Muhammadiyah terhadap FPI dan sebaliknya.

Baca Juga  Muhammadiyah-FPI (MuFPI)

Pertama: aktivis Muhammadiyah aktif di FPI melihat Muhammadiyah terbagi ke dalam dua kelompok:

1)Positif-akomodatif melihat Muhammadiyah, sikap ini cenderung  ”menduakan” Muhammadiyah, secara organisasi aktif di Muhammadiyah tetapi aktif pula di FPI. Mereka berpandangan FPI merupakan: a)pelengkap gerakan Muhammadiyah dalam menegakkan ideologi nahi mungkar.

b) Ideologi FPI dan Muhammadiyah terdapat kesamaan mengusung amar ma’ruf nahi mungkar, bedanya pada strategi dakwah di lapangan. FPI lahir tidak mereduksi dan menjelekkan Muhammadiyah tetapi masing-masing memiliki jalan dakwah.

2)Negatif-disintegratif melihat Muhammadiyah, sikap ini secara tegas memisahkan dari Muhammadiyah pindah ke FPI. Mereka mengkritik dari sudut negatif padahal sebelumnya bagian dari Muhammadiyah. Muhammadiyah dianggap terlalu akomodatif dengan Pemerintah dan terkesan tidak peduli terhadap aksi kemaksiatan, padahal pemerintah dianggap bagian dari backing kemaksiatan.

Kedua aktifis Muhammadiyah tidak ikut FPI melihat FPI terbagi ke dua pandangan:

1) Reaksioner-positif  melihat FPI, mereka  memilah aktifitas FPI dengan tidak menggeneralkan semua aksi kekerasan FPI murni kesalahan dan arogansi FPI. 2) Reaksioner-negatif melihat FPI, mereka beranggapan  FPI itu arogan, kasar sehingga merusak citra Muhammadiyah.

Proses konversi ideologi, sedikit banyak mempengaruhi lanskap ideologi ”wajah” Islam Indonesia. Secara internal Muhammadiyah berdampak pada aspek ideologis dan sosiologis.

1) secara ideologis terjadi penggerusan (erosi) ideologi, sehingga terjadi pelemahan militansi berMuhammadiyah dan berdampak pada mengerasnya ideologi Muhammadiyah.

2) secara sosiologis menganggu sistem kerja persyarikatan dan tradisi sosial-keagamaan Muhammadiyah yang berjalan.

Dampak eksternal merubah wajah gerakan Islam Indonesia. Lanskap awal lebih dikenal berwajah moderat bergeser menjadi berwajah konservatif-radikal. Serta merubah ”wajah” relasi sosial Umat Islam Indonesia yang menghargai tradisi lokal menjadi ”wajah” menonjolkan gaya ”arabisme, yaitu menguatnya tradisi sosial-keagamaan dengan meniru identitas budaya kearab-araban.

Baca Juga  MCCC: Jihad Kemanusiaan

Perubahan lanskap tersebut disebabkan Muhammadiyah merupakan barometer gerakan Islam moderat di Indonesia. Potret wajah Islam Indonesia tergantung dari wajah Muhammadiyah-NU, jika wajah keduanya konservatif-radikal maka potret ”wajah” Islam Indonesia tampil seperti itu dan sebaliknya.

Potret di atas hemat penulis disebabkan stagnasi metodologi Pendidikan di Muhammadiyah yang cenderung monodisiplin, sehingga terjadi kegagapan memproyeksi peradaban global-kontemporer. Pola tersebut cenderung menghasilkan sikap keberagamaan kaku-keras (konservatif) dan intoleran, maka dibutuhkan kolaborasi keilmuan agama, sosial-humanities dan ilmu sains-teknologi dalam menyelesaikan beragam problematika kontemporer.

Dari sini, diperlukan segera  reformasi metodologi pendidikan Muhammadiyah dari pola monodisiplin ke multidisiplin-interdisplin-transdisiplin sebagaimana tawaran Prof Amin Abdullah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk