Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah

Nurbani-Yusuf-skets-284x300

Oleh: KH. Nurbani Yusuf*

Benarkah Muhammadiyah talak tiga terhadap tasawuf ? Seperti mencari jarum hitam ditengah malam gelap gulita, misal yang tepat menggambarkan betapa susahnya menemukan benang struktur formal tradisi tasawuf di kalangan ulama-ulama Persyarikatan.

Tapi benarkah Muhammadiyah hanya membatasi diri pada urusan fiqh yang kemudian disimbolkan dengan prilaku puritan dan jargon kembali kepada Al Quran dan As sunah. Ada yang menyebut bahwa ‘Manhaj Muhammadiyah tak ramah dengan tasawwuf —‘ tak sedikit yang menyebut bid’ah, khurafat yang harus dibuang jauh. Sebab itu pula konten putusan Majelis Tarjih hanya berkisar pada urusan aqidah, fiqh dan sedikit mu’amalah. Tak ada ruang untuk tasawuf.

Paradoks, meski tidak dilembagakan, prilaku tasawuf justru sangat kental di kalangan ulama-ulama Persyarikatan, bahkan lebih substantif, membentuk sikap dan prilaku sebagian besar ulama, tidak membenam diri dalam riuh ritual formal sebagaimana lazimnya. Prilaku tasawuf tidak disimbolkan dalam bentuk zikir atau struktur mursid suluk atau wirid, surban menjuntai dan jumlah pengikut tapi lebih merujuk pada ‘prilaku tasawuf’ atau prilaku kesufian otentik.

Otentisitas prilaku kesufian inilah yang hendak saya kabarkan, yang mewujud dalam bentuk konseptual : ‘Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah’. Kajian ini sama sekali tidak membincang berapa lama beliau duduk saat wirid atau sebesar apa tasbih yang ia putar atau karamah yang beliau dapatkan. Tapi fokus pada ikhtiar mencandra dari ‘buah tasawuf’ yang melembaga dalam prilaku kesufian otentik para ulama Persyarikatan.

Ma’rifat adalah cahaya yang dilemparkan pada hati sang sufi tutur Dzun nun Al Mishri. Saya belum ada keberanian memberi ta’rif : apakah ini yang disebut Tasawuf Ihsan seperti digagas Ki Bagus Hadikoesoemo.

^^^
Realitasnya Indikator kesufian semisal : zuhud, wara, raja’, mahabbah, menjadi bagian tak terpisah dari kehidupan para ulama Persyarikatan: KH Abdur Razaq Fakhruddin yang biasa disebut Pak AR dan Buya Syafi’i Maarif adalah pribadi kesufian otentik ulama di Muhammadiyah dengan tidak bermaksud menafikkan yang lain.

Baca Juga  Ketika Gerakan Islam Berkemajuan Kangen Bank

Meski menyandang nama besar, tidak menghalangi keduanya hidup bersahaja sebagaimana ulama lainnya di Persyarikatan. Pak AR tetap jualan bensin eceran, mengendarai motor Yamaha butut dan tinggal di rumah kontrakan. Yang bikin Prof Nakamura dari Negeri sakura Jepang keheranan. Pun dengan Buya Syafii Maarif, tidak canggung belanja di warung sebelah, pergi sendirian tanpa pengawalan dan memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa seorang pembantu.

Tiga kali berta’dzim. Orang Nogotirto menjawab sama : ‘bila beliau ada di rumah, beliau akan shalat berjamaah di masjid’. Di masjid itu pula semua tamu ditemui. Pikiran-pikiran besar Buya jauh melampaui generasi sebaya dan setelahnya, tak jarang beliau menerima amuk dari kader sendiri yang kebetulan belum paham, sesuatu yang amat lumrah bagi sebagian besar ulama diperlakukan umatnya.

^^^
Kesahajaan ini menghampiri semua ulama-ulama di Persyarikatan — tanpa pesantren dan santri meski menyandang gelar ulama. Sesuatu yang amat kental terlihat dalam tradisi kesufian di Muhammadiyah. Karena sikap zuhud ini pula tidak satupun ada keinginan memiliki aset yang jumlahnya puluhan triliun. Padahal sangat bisa, kalau mau.

Para ulama itu hidup zuhud dan wara— mereka sudah selesai dengan urusan dunia. Pikiran terbaik, tenaga terbaik, waktu terbaik dan harta terbaik diwakafkan untuk Persyarikatan. Para Ulama di Muhammadiyah sudah selesai dengan urusan dirinya sehingga tidak menjadi urusan bagi jamaah dan pengikutnya.

Kyai Bedjo Dermoleksono misalnya, wakafkan semua hartanya untuk Persyarikatan tanpa sisa. Kemudian isterinya tinggal di rumah yang dipinjami dari Pimpinan Muhammadiyah dekat masjid Al Khairat Dinoyo tempat saya lima tahun menjadi marbot.

^^^^
Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah’ bisa juga dimaknai mencari penghidupan yang baik dan halal di luar, kemudian dipakai untuk menghidupi Muhammadiyah.

Baca Juga  Memperkokoh Ideologi "Dahlaniyah" di Muhammadiyah

Jangan kau tawarkan jiwamu karena jika sudah dikehendaki kamu akan mati tapi beranikah kau berikan harta bendamu untuk kepentingan agamamu — adalah dua pesan Kyai Dahlan diawal berdiri dibuktikan dengan menggadaikan semua harta bendanya untuk membiayai sekolah yang beliau dirikan yang kesulitan likuiditas.

‘Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah’ Kyai Dahlan adalah keteladanan kepada seluruh muridnya untuk ma’rifat, mengenal dan memahami ruh dan spirit pergerakan ini secara kaffah — bukan semacam kawanan pekerja yang mencari sesuap makan di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah, yang terus menagih untuk mendapatkan, tapi susah memberi.

^^^^
Sebaliknya semua amal usaha: baik universitas, rumah sakit, bait amal dan lainnya adalah washilah dakwah bukan tujuan, manhaj inilah yang benar, yang harus terus ditransformasikan kepada semua aktifis pergerakan,
menjaga spirit dan ghirah ditengah gempuran ideologi transnasional- tarbiyah dan liberal-sekular yang terus menghimpit

*Ketua PDM Kota Batu, Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk