Jalan Sufi Kang Jalal

IMG_0107

Pertama kali saya mengenal Kang Jalal panggilan akrab Jalaludin Rakhmat saat saya sekolah di jenjang menengah atas. Perkenalan secara tidak langsung memang, hanya berada di ruang teks, melalui kata pengantar yang beliau tulis dalam buku Ideologi Kaum Intelektual karya pemikir besar Iran, Ali Syari’ati. Berkat Kang Jalal itu pula saya menjadi jatuh cinta kepada Syari’ati, hingga menjadikannya obyek penelitian dalam tugas akhir saya di jenjang sarjana.

Takdir Tuhan, tahun 2012 saya dipertemukan secara langsung dengan Kang Jalal dalam sebuah seminar lintas agama di Surabaya. Perjumpaan yang tidak lagi imajiner, beliau hadir sebagai salah satu narasumber. Bak gadis remaja bertemu artis idolanya, saya dengan sigap mengambil posisi duduk paling muka. Jujur, bukan semangat mencari ilmu, tapi sekedar agar bisa melihat kang Jalal dari dekat.

Logika memang tak pernah berlaku bagi penggagum. Sayang itu perjumpaan pertama dan ternyata terakhir saya dengan Kang Jalal di ruang realita. Senin, 15 Februari 2021, cendekiawan muslim itu tutup usia. Ia meninggal pada usia 71 tahun usai menjalani perawatan medis di ICU RS Sentosa Internasional Bandung pukul 15.45 WIB.

Perjalanan Intelektual dan Spiritual

Kang Jalal lahir dari keluarga Nahdliyin. Sang kakek adalah seorang kyai yang memiliki pesantren bergaris NU. Sejak kecil Kang Jalal harus menahan kepedihan tatkala ditinggal oleh ayahnya saat berusia 2 tahun karena kemelut politik Islam. Sejak itulah Kang Jalal dirawat dan dibimbing oleh ibunya. Ibunya meyekolahkan Kang Jalal di sekolah umum pada pagi hari, dan ke madrasah sore harinya, membimbingnya membaca kitab kuning pada malam harinya.

Kang Jalal beruntung, sebab ayahnya meninggalkan harta tak ternilai berupa kitab-kitab berbahasa Arab. Dari buku-buku peninggalan ayahnya-lah, Kang Jalal berkenalan dengan kitab Ihya Ulumuddin karya sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang kelak akan mempengaruhi hidupnya.

Ketika remaja Kang Jalal banyak menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan negeri, peninggalan Belanda. Ia tenggelam dalam buku-buku filsafat, yang memaksanya untuk belajar bahasa Belanda. Dari sini ia berkenalan dengan para filosof, dan terutama sekali sangat terpengaruh oleh Baruch Spinoza dan Friedrich Nietzsche.

Baca Juga  Memperkokoh Ideologi "Dahlaniyah" di Muhammadiyah

Kang Jalal juga aktif berorganisasi. Menurut pengakuannya ia pernah bergabung dengan Persatuan Islam (Persis), kemudian masuk kelompok Rijallul Ghad. Saat kuliah di Universitas Padjajaran (UNPAD, )Kang Jalal bergabung dengan Muhammadiyah dan sempat mengikuti perkaderan Darul Arqom.

Dari latar belakang itulah ia sempat kembali ke kampung untuk “memberantas” segala yang ia anggap bid’ah di sana. Namun, kang Jalal kemudian tersadar yang ia berantas bukanlah bid’ah tapi perbedaan fiqih antara Muhammadiyah dan NU.

Setelah memperoleh gelar master dalam bidang komunikasi dan psikologi dari Iowa State University pengembaraan intelektualannya ia lanjutan ke kota Qum, Iran. Di sana ia belajar Irfan dan filsafat Islam dari Mullah tradisional. Perjalanannya di kota Qum sangat membekas dan banyak merubah pemikiran keagamaannya. Pengembaraanya kemudian ia lanjutkan ke Australia untuk mengambil studi doktoral dalam bidang perubahan politik di Australia National University (ANU).

Mengapa Tasawuf bukan Fiqih?

Kang Jalal mengenal dunia tasawuf dan tertarik dengan tasawuf ketika bersama-sama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshory diundang pada sebuah konfrensi di Kolombia pada 1984. Dari konfrensi itu ia bertemu dengan ulama-ulama asal Iran yang memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf. Pertemuan itu membuatnya berdecak kagum. Ia pun mendapat hadiah banyak buku mengenai pemikir Syi’ah, yang di dalamnya banyak membahas masalah irfan (tasawuf). Sejak itulah ia mendalami gagasan para pemikir Iran seperti Ali Syari’ati, Murthadha Muthahari, dan Imam Khomeini.

Mengenai Imam Khomeini, dia berpendapat, Imam khomeini adalah seorang sufi yang tidak mengasingkan diri dari masyarakat, Imam Khomeini adalah sufi sekaligus pejuang tangguh yang aktifitas politiknya telah mengguncangkan dunia. Seorang ulama yang mampu merangsek naik ke pusat kekuasaan, memimpin umat dalam revolusi putih, menggulingkan rezim diktator Syah Reza Pahlevi.

Sejak itulah Kang Jalal memilih jalan tasawuf dan bukan fiqih sebagai materi dakwahnya. Alasan dan pertimbangan kenapa ia memilih pendekatan tasawuf adalah pertama, perhatian umat terhadap fiqih sudah terlalu lama dan terlalu dalam. Banyak organisasi keagamaan didirikan atas dasar fiqih. Seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Isryad banyak dilatar belakangi oleh perbedaan fiqih para pendirinya.

Baca Juga  Ajaran Hidup KH. Ahmad Dahlan

Kedua, fiqih tidak memberi kehangatan dalam beragama, karena kesalehan seseorang hanya diukur oleh sejauh mana dia mengikuti dan mentaati fiqih yang sesungguhnya masih ijtihadi para ulama dalam memahami al-Qu’an dan al-Sunnah.

Menurut Kang Jalal, orang beragama yang terlalu berpegang pada pendapat fiqih akan terasa kaku, sempit dan terkesan formalistik. Maka keberagamaan yang ia miliki kurang memberikan kesejukan, keteduhan, dan kehangatan. Hal ini akan sangat berbeda dengan mereka yang beragama dengan tasawuf, ia akan merasakan kehangatan, kelonggaran dalam beragama. Karena dalam tasawuf, para sufi dalam melihat berbagai persolan tidak hitam putih, benar salah, halal haram, surga neraka, karena mereka melihat segala sesuatu pada makna atau hakekat.

Ketiga, fiqih sering menjadi penyebab pertentangan di antara umat Islam yang berakibat rapuhnya sendi ukhuwah Islamiyah

Keempat, kecenderungan masyarakat era 80-an, banyak orang berbondong-bondong mendalami Islam. Pada umumnya mereka tidak mau mendalami persoalan fikih, tetapi mereka mencari dari Islam sesuatu yang bisa mendatangkan ketenangan batin, yakni tasawuf. Atau dengan kata lain kecenderungan “pasar” yang menginginkan tasawuf. Gejala ini terjadi khususnya bagi masyarakat perkotaan dengan segmen kelas sosial menengah ke atas. Gejalanya bisa dilihat dari semakin ramainya majelis ta’lim yang menyelenggarakan kajian tasawuf.

Kelima, Kang Jalal membaca buku-buku mengenai fikih klasik sampai yang modern, menyimpulkan fiqih pambahasanya monoton, bahkan cenderung mengulang dari pembahasan fikih yang sebelumnya. Berbeda halnya dengan tasawuf, dari zaman ke zaman selalu berubah.

Alasan keenam , berkaitan denga aspek kejiwaan, masyarakat jenuh jika terus berdebat mengenai fiqih. Fiqih jika diperdebatkan, maka fiqih tidak akan ada habisnya.

Membumikan Tasawuf

Sebenarnya, pada mulanya Kang Jalal adalah seorang ahli fiqih. Dakwah yang ia sampaikan kental dengan nuansa fiqih. Malahan, ia pernah berbangga diri bahwa dalam setiap debat fiqih ia selalu berhasil menaklukkan lawan-lawannya. Kebanggaan yang berlebihan sempat membuatnya lupa diri bahkan ujub. Banyak sekali paham keagamaan yang sudah mapan di masyarakat ia libas.

Keponggahan dan kesombongan intelektual itu kemudian berhenti ketika salah seorang jamaa’ah Kang Jalal bernama Darwan meninggal dunia di tabrak kereta. Kang Jalal dalam pengantar bukunya Rindu Rasul menuturkan, Darwan yang pengetahuannya tentang agama sangat sederhana, pada menit-menit akhir hidupnya yang ia ingat hanya Nabi Muhammad. Ia pun berpesan pada istrinya agar bikin perayaan peringatan maulid kanjeng Nabi. Ia tak ingat anak istri dan semua harta yang ia miliki. Peristiwa itulah diantaranya yang meruntuhkan keponggahan dan kesombongan intelektual Kang Jalal.

Baca Juga  Islam Pembentuk Kehidupan

Maka sejak dekade 90-an sampai di akhir hayatnya Kang Jalal lebih tertarik pada materi-materi dakwah yang bernuansa sufistik (aspek batiniah) daripada materi seperti fiqih. Meskipun karena situasi ia harus menjelaskan materi fiqih, ia selalu melengkapinya dengan merujuk kepada semua pendapat para imam mazhab dan memberikan beberapa alternatif jawaban agar jama’ah tidak sempit pandangan. Selain itu ia tak lupa menambahkan pendapat dan pandangan para ulama yang menekankan pentingnya mendahulukan akhlak daripada fiqih semata. Di sini terlihat meskipun Kang Jalal lebih mementingkan aspek tasawufnya namun ia tidak meninggalkan aspek fiqihnya.

Kesungguhannya dalam menyebarluaskan tasawuf ditunjukkan dengan menerbitkan beberapa karya tulis diantaranya: Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik, Tafsir Sufi Al-Fatihah: Mukadimah, Memaknai Kematian, Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik, Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih, Jalan Rahmat: Mengetuk Pintu Tuhan, The Road to Allah: Tahap-Tahap Ruhani Menuju Tuhan.

Selain itu kesungguhannya dalam menyuarakan tasawuf dapat dilihat ketika ia mendirikan lembaga-lembaga kajian tasawuf dan studi tasawuf di kampus diantaranya: Pusat Kajian Tasawuf (PKT): Tazkia Sejati, OASE-Bayt Aqila, Islamic College for Advanced Studies (ICAS-Paramadina), Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta, dan PKT MIsykat di Bandung. Di lembaga-lembaga inilah Kang Jalal secara intensif menyampaikan pengajian atau kuliah tasawuf kepada masyarakat urban yang dahaga akan siraman rohani.

Kang Jalal memang identik dengan perkembangan tasawuf kota (urban sufism). Bahkan bisa dibilang ialah yang merintis kajian-kajian tasawuf dengan kelompok sasaran masyarakat kelas menengah perkotaan. Jamaah yang bergabung dengannya menyebut diri mereka sebagai “laron-laron kecil menuju misykat pelita cahaya ilahi”. Selamat jalan Kang Jalal, sebagai “laron” engkau telah sampai kepada tujuan terbesarmu, “Nur Ilahi”.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk