Islam Pembentuk Kehidupan

WhatsApp Image 2021-04-18 at 11.36.41

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki, dan sakit. Dari semua proses tersebut seharusnya bersyukur atas semua nikmat yang diberikan adalah sebuah keharusan. Agar perlindungan dari sang Khalik terhadap diri ini tetap ada sampai akhir kehidupan.

Maka secara fundamental capaian hidup yang sempurna dalam segala prosesnya harus berpegang pada syariat Islam secara kaffah. Hal itu yang dijelaskan dalam karya agung Buya H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) yang berjudul Falsafah Hidup.

Dalam buku Falsafah Hidup tersebut ketika kita melakukan pembentukan karakter Islam pada diri pribadi atau masyarakat luas. Maka, yang harus dilakukan adalah melakukan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam itu sendiri atau melakukan pemahaman tentang syariat. Sehingga dalam pembentukan karakter Islami tersebut bisa paripurna.

Secara sederhana mengapa syariat itu menjadi pedoman hidup yang penting?, jawaban adalah karena bahwa syariat itu sebagai obat (as-syifa) untuk menyehatkan jiwa (qalb), dan untuk kehidupan kita.

Sehingga, ketenangan, ketrentaman hati akan kita dapati. Dan bagaimana dengan badan apakah metodenya sama dengan jiwa, ternyata tidak, ketika misalkan badan membutuhkan pertolongan, maka yang dibutuhkan ialah dokter. Karena dokterlah yang lebih tau, lebih faham dengan urusan tubuh manusia dalam segala aspeknya.

Dalam buku Falsafah Hidup, Buya Hamka menjelaskan bahwa lingkaran hidup itu atas dasar rancangan tuhan dan datangnya lewat wahyu dengan perantara para nabi/rasul, bukan atas dasar rekayasa manusia. Yang tidak lain untuk menguatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. dan juga sebagai cara untuk mendekatkan diri kepadanya. Karena memang di dalam syariat itu sendiri banyak ajaran yang tentunya bisa dijadikan investasi akhirat dengan mangharap kemuliaan dunia dengan bentuk keberkahan hidup.

Baca Juga  Gagasan Kebebasan Beragama Di Muhammadiyah (1)

Untuk itu dalam pembentukan jiwa dengan cerminan Islam harus mengaplikasikan ajaran dalam syariat agama secara rigid. Yang pertama adalah syariat tentang shalat. Seluruh gerak badan jasad dan batin melakukan doa baik secara gerakan mapun lisan. Disetiap gerakannya ada doa yang dipanjatkan, dan kemudian ada shalawat nabi yang didengungkan sebagai wahana untuk menjunjung tinggi nabi Muhammad Saw. maupun nabi Ibrahim as.

Karena kedua nabi tersebutlah yang kemudian membuka jalan hidup bagi umat manusia. Nabi Muhammad Saw. sendiri dijadikan rool model dalam pembentukan karakter terbaik bagi umat manusia. Disamping itu juga kesucian akhlaqnya juga bisa dijadikan uswah hasanah bagi kita semua.

Kemudian rangkaian terakhir dalam ibadah shalat yaitu salam artinya adalah sebagai uapaya untuk memberikan salam kepada orang yang disebalah kanan maupun kiri kita. Hal ini bahwasanya hidup di dunia tidak sendiri, maka silaturrahmi kepada orang di sekitar adalah bagian dari amalan yang harus dilakukan. Untuk itu ibadah shalat ini bisa dikatakan sebagai cerminan kesempurnaan budi atau akhlaq manusia.

Yang kedua adalah perintah untuk zakat. Bahwasanya zakat ini sebagai landasan untuk melakukan pembersihan jiwa dan harta manusia, yang mana nantinya bisa mensucikan masyarakat secara luas dari perasaan berkapitalis berproletar. Zakat sendiri sebagai didikan kepada manusia supaya mementingkan perasaan orang lain, tidak diri sendiri saja. Sehingga harapannya orang kaya menjadi tempat perlindungan dari orang miskin dalam segi sendi segala hidupnya.

Kemudian yang ketiga adalah diperintah untuk puasa. Puasa sendiri sebagai jalan pembeda antara manusia dan hewan. Kenapa demikian, karena secara maknawi puasa adalah menahan. Di dalamnya bukan hanya menahan makan dan minum saja tapi juga bisa manahan hawa nafsunya.

Baca Juga  Jangan Salah, Berbicara Juga Butuh Keterampilan Khusus

Mengapa demikian karena ketika kita berpuasa dengan ikhlas dan mengharap ridha Allah Swt. dengan sebenar benarnya itu bisa sebagai benteng hidup misalkan, ketika ada momen bisikan syetan pada hati untuk melakukan tindakan atau perilaku yang mengarah pada keburukan maka, hati tidak akan merespon akan bisikan syetan tersebut karena memang sudah tersucikan oleh ibadah puasa itu sendiri.

Dari ketiga syariat tersebut diatas ketika diaplikasikan dengan rigid akan membawa kemurnian hati dan juga bisa memberikan kemaslahatan bagi sekitar. Maka memang harus senantiasa dikerjakan dengan hati yang khusu’ dengan mengaharap ridho ilahi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk

Ma’rifat ‘ala Minhajil Muhammadiyah

Oleh: KH. Nurbani Yusuf* Benarkah Muhammadiyah talak tiga terhadap tasawuf ? Seperti mencari jarum hitam ditengah malam gelap gulita, misal yang tepat menggambarkan betapa susahnya