Guru yang Digugu dan Ditiru

Ilustrasi: Hardiknas | Mufid Majnun.unsplash

Irnie Victorynie

Dosen Universitas Islam 45 Bekasi

Tujuan pendidikan nasional sudah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, Pasal 3, yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Tujuan selanjutnya, pendidikan dilaksanakan untuk menjadikan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tadi, semua lembaga pendidikan memerlukan tangan dan peran tenaga pendidik. Tentu yang dimaksud adalah guru-guru yang berkualitas, bukan sekedar kuantitas atau pemenuhan rasio pendidik atas peserta didik.

Mengutip, tulisan Tanner, tahun 1987, “good schools are impossible without good teachers”, cukup sesuai dengan kondisi kita. Sebuah lembaga pendidikan, tempat peserta didik dibentuk sesuai dengan tujuan pendidikan, akan berhasil apabila memiliki pendidik yang tepat dan mumpuni.

Saya sangat mendukung, ada program seleksi penerimaan guru baru, uji kompetensi guru, sertifikasi guru, dan program lain semisal, baik di sekolah swasta, maupun di sekolah negeri. Dengan begitu, akan tersaring para pendidik yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan untuk kepentingan pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Namun, ada hal yang menjadi pertimbangan. Apakah semua jenis soal dan rangkaian seleksi sudah mengacu pada tujuan pendidikan nasional? Maksudnya, hasil dari seleksi tersebut, apakah memberikan informasi tentang ketakwaan guru, akhlak guru, keluasan ilmu, sikap tanggung jawab, dsb. Jangan sampai, hasil tes hanya mengukur satu poin saja, misal hanya ilmu yang dimiliki, poin lain tidak diperhatikan.

Apabila seleksi guru belum mengukur semua poin dari tujuan pendidikan, dikhawatirkan akan sulit mencapai semua tujuan tadi. Karena nyatanya, seluruh poin dalam tujuan itu tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling berkaitan, saling mengisi, dan bersinergi.

Baca Juga  Mengenal Sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq (1)

Seorang guru itu dalam berpakaian rapi pun belum cukup, karenanya kudu juga ditanamkan takwa dan berakhlak mulia. Perihal kedua hal ini menempati posisi yang sering terlupakan, namun sejatinya ini adalah poin pertama dari sang guru. Perhatikan sang guru bukan Super Hero yang ujug-ujug pintar, jago dalam suatu ilmu dan punya kemampuan mendidik. Sebab itu poin bekal ilmu yang memadai untuk mengajar dan mendidik fardhu ain harus dimiliki oleh guru. Secara sederhana, guru yang tak lupa tuhan dan selalu berprinsip pembelajar dalam dirinya.

Kalau guru sudah lebih dulu menjadi pribadi yang unggul secara auto akan mendukung upaya pelaksanaan Undang-undang. Dampaknya, akan lebih muda menularkannya nilai-nilai kebaikan beserta ilmu kepada peserta didik. Karena, guru yang setiap hari berinteraksi langsung dengan peserta didik di kelas, bertugas mengendalikan proses kegiatan belajar mengajar, dan mengarahkan anak didik untuk menjadi pribadi tertentu.

Ada istilah yang sering kita dengar, guru itu digugu dan ditiru. Jadi, bila peserta didik meniru guru yang sudah berkarakter sesuai Undang-Undang, maka sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi peserta didik. Benar kata Mulyasa (2012) dalam buku Manajemen Pendidikan Karakter, “manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, termasuk peserta didik mencontoh pribadi gurunya dalam proses pembentukan pribadinya”.

Ini bukan penuntutan dan permintaan saya kepada guru, tapi ini menjadi rambu-rambu bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan indonesia. Sebab, tak berani menuntut banyak-banyak terhadap para guru di Indonesia ini. Karena mereka sudah hebat dan menopang karakter bangsa guna indonesia yang lebih bermartabat dan maju.

Di luar sana pun para guru yang sudah mengabdi selama belasan tahun, tapi belum juga mendapat kesejahteraan yang layak. Masih banyak guru honorer yang memperjuangkan sekadar upah layak, terus tak digubris. Tak ayal pula pandemi, banyak guru yang bekerja 24 jam. Memaksa diri belajar administrasi dan sistem daring seabrek.

Baca Juga  Jangan Sepelekan Guru

Dan Semuanya itu untuk pendidikan indonesia. Sekali lagi, Selamat hari pendidikan. Dan selamat untuk guru yang mendidik dengan langkah maju dan pijakan yang kuat.

 

 

 

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk