MCCC: Jihad Kemanusiaan

mccc

Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai gerakan berkemajuan, tetapi dikenal pula sebagai gerakan berkemanusiaan. Penyematan istilah tersebut, tidaklah berlebihan jika kita saksikan gerakan dakwah sosial Muhammadiyah selalu terdepan dan strategis taktis, dalam membantu masyarakat lemah tanpa pandang bulu, ras, suku, agama, seperti dalam menghadapi melawan pandemi Covid-19 di Indonesia.

MCCC Jihad Kemanusian Muhammadiyah

Keterdepanan dakwah sosial Muhammadiyah tersebut terbukti dengan didirikannya Muhammadiyah Covid-19 Comand Center (MCCC) di seluruh pelosok negeri Indonesia mulai dari Sabang Aceh hingga Merauke Papua. Sehingga dapat dikatakan pendirian MCCC adalah bagian dari “Jihad Kemanusiaan” Muhammadiyah melawan Covid-19 di Indonesia.

Peran dakwah sosial Muhammadiyah luar biasa ditengah pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung di masyarakat. Covid-19 hampir tersebar di seluruh negara di belahan bumi ini, dari 200 negara hampir 181 negara yang terpapar. Berdasarkan data Worldomsters yang dikutip KOMPAS.com (12/5/2020), kasus Covid 19 di seluruh dunia terkonfirmasi 4.245.003 kasus, sembuh 1.521.899 orang, meninggal 286.653 orang, negara terpapar terbesar adalah Amerika Serikat dengan 1.382.068 kasus, sembuh 260.280 orang, dan meninggal 81.570 orang. Sementara untuk Indonesia terdapat 14.265 kasus, sembuh 2.881 orang, meninggal 991 orang.

Data di atas menunjukkan Covid-19 sangat berbahaya dan menjadi hantu zombie menakutkan bagi masyarakat global. Serta dapat mempengaruhi tatanan struktur sosial, ekonomi, politik, kesehatan, budaya dan keagamaan di masyarakat. Fenomena tersebut oleh penulis disebut dengan istilah Sosiovirologi. Sebuah gejala perubahan sosial dikarenakan virus (mikroba).

Dampak Covid-19

Sementara di Indonesia, dampak dari pandemi Covid-19 sangat terasa bagi seluruh rakyat, terutama masyarakat lemah. Dari situasi inilah Muhammadiyah terpanggil untuk berjihad melawan Covid-19 dengan mendirikan MCCC sebagai wujud kepedulian dengan tujuan untuk membantu mereka. Kepedulian tersebut tampak dari beberapa program dan kegiatan sosial kemanusian Muhammadiyah, dalam membantu masyarakat untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang terorganisir, melalui gerakan dengan nama MCCC.

Baca Juga  Muhammadiyah di Tengah Salafisasi Global

Muhammadiyah Covid-19 Comand Center ( MCCC) didirikan berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 02/MLM/1.0/H/2020 tentang wabah Covid-19. MCCC bertugas mensinkronkan pelaksanaan aksi pencegahan Covid-19 di masyarakat. Untuk pelaksanaan MCCC di lapangan, PP Muhammmadiyah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 2825/KEP/1.0/D/2020 berisi untuk setiap PWM membuat MCCC tingkat Wilayah dengan menyediakan SDM, dana, sarana, prasarana dan menyebarkan informasi terkait Covid-19 di laman ini.

Berdasarkan paparan Prof. Haedar Nashir (Ketum PP Muhammadiyah) di REPUBLIKA.co.id (17/4/2020) disebutkan bahwa, MCCC sudah berdiri di 23 Provinsi seluruh Indonesia. MCCC didukung dengan kinerja data dan sistem teknologi informasi dengan dukungan Pusat Syiar Digital Muhammadiyah (PSDM). Serta didukung pula dengan jaringan 65 rumah sakit (RS Muhammadiyah dan RS ‘Asyiah) untuk dijadikan RS rujukan Cobid-19. Bahkan saat ini juga sedang di bangun RS Darurat Covid-19 bertempat di Rusunawa RS PKU Muhammadiyah Gombong. Selain itu, ada pula dukung dari jaringan PCIM luar negeri, seperti PCIM Malasyia, Jerman, Taiwan, Mesir, Amerika Serikat, Arab Saudi dan lain-lain.

Adapun program MCCC yang sudah dilakukan di lapangan dalam rangka membantu meringankan beban mereka yang terdampak Covid-19 adalah, memberikan sembako untuk ketahanan pangan, membagikan masker, handsinitazer, penyemprotan disinfektan, membuka layanan konsultasi psikologis secara gratis bagi warga, program pemantauan masyarakat dan warga Muhammadiyah dalam rangka pendataan masyarakat terdampak, dan sebagainya.

Wujud Theologi Al-Ma’au

Dari yang sudah dilakukan oleh Muhammadiyah dengan mendirikan MCCC merupakan wujud dan aktualisasi dari teologi New Al-Ma’un dalam rangka menebar kebaikan untuk rahmatalil ‘alamin di seluruh Indonesia. Sehingga gerakan yang sudah bagus untuk kebaikan dan visi kemanusiaan ini jangan dirusak untuk dijadikan alat atau kepentingan politik praktis. Mari kita jaga bersama rumah MCCC ini tetap sebagai wadah jihad kemanusiaan Muhammadiyah. Tetap jaga jarak, jauhi kerumunan, stay at home, dan berdo’a kepada Allah Swt.

Baca Juga  BerMuhammadiyah Asli: Tanpa Rasa HTI-FPI-Salafi

Artikel ini pernah dimuat di PIJARNews.ID

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp
Artikel Terkait

Islam Pembentuk Kehidupan

Menjalani segenap proses hidup di dunia ini adalah termasuk hasil dari campur tangan Tuhan dalam segenap aspeknya. Misalkan kemudian dalam proses kelahiran, kematian, sehat, rizki,

“DRAKOR” Menggempur Kebudayaan Kita

Demam Drama Korea “Drakor” Demam budaya Korea sedang melanda ke segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Produk kebudayaan Korea mulai film, musik, makanan, fashion, produk

Fenomena Polisi Aqidah yang Offside

Bermula dengan perkataan teman saya yang biasa aktif  di dunia penerbitan dan perbukuan mengenai istilah polisi bahasa. Frase ini digunakan untuk menyebut seseorang atau ahli

Pandemi Mengajak Kita Menjauhi Hoax

Baiklah, lagi-lagi saya dipaksa menulis lagi dengan tema yang lagi populer ini. Bahkan si Song Joong Ki, aktor film “Descendants Of The Sun” pun kalah

Menyoal Ideologi Muhammadiyah

Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin

Model Pembelajaran Islam

Menuntut ilmu termasuk kewajiban bagi umat manusia. Apalagi bagi umat muslim karena, tuntutan tersebut terdapat dalam hadist nabi Muhammad Saw. yang berbunyi Uthlubul ‘ilma minal

Dimensi Ibadah

Dimensi Ibadah Semua ibadah, dapat dianalisa dari 3 dimensi, yaitu dimensi Struktural, Fungsional, dan dimensi Spiritual. Banyak dimensi yang bisa digunakan sebagai pisau analisa, untuk